|
|
|
|
|
|
|
|
- |
Sex Umum |
Nyata |
2009-04-15 18:56:57 |
|
2 |
13337 |
Cerita ini adalah sambungan dari cerita seru berjudul Teman Kerja Yang Seksi.
---------------------------
Ringkasan dari cerita sebelum-nya, namaku Doddy. Aku bekerja di perusahaan akutansi, tetapi pekerjaan utama-ku adalah sebagai system administrasi bagian informasi teknologi. Aku terlibat dalam affair indah bersama teman kantorku bernama Yunita dan kerap dipanggil oleh Nita.
Pada suatu hari, tepatnya di hari Jumat, aku terpaksa harus lembur untuk meng-upgrade operating system servers kantor kami karena alasan sekuritas.
Nita yang pada saat itu setuju untuk menemaniku untuk lembur, akhirnya terlibat dalam affair indah di dapur kantor kami.
Berikut adalah sambungan dari cerita kami sebelumnya. Bila anda masih belum membaca cerita seru berjudul Teman Kerja Yang Seksi, mohon dibaca karena mungkin cerita ini ada hubungan-nya dengan cerita sebelum-nya.
---------------------------
Pada malam itu, sekitar pukul 9 malam. Aku menancapkan gas mobilku menuju ke dalam keramaian lalu lintas dan kehidupan malam kota Jakarta.
"Kamu pengen makan di mana, sayang?", tanya Nita. Semenjak kejadian 2 jam sebelum-nya, Nita telah menggunakan kata "sayang" atau "darling" kepadaku. Aku jadi risih sedikit, karena pacarku juga sering mengatakan "sayang", tapi darling belum pernah.
"Gimana kalo makan sushi?", tanyaku.
"Hmm ... sushi is good.", jawab Nita.
"Tapi di mana?", tanya Nita sebelum aku sempat bertanya lagi.
"Aku pikir sih makan di restoran sushi itu loh, di tempat yg baru ... Grand Indonesia. Gampang cari parkir sih, dan kagak begitu rame.", jawabku.
"Oh, aku belum pernah makan di sana sih. Wherever you want to go, darling.", jawab Nita lagi dengan nada mesra.
Malam itu kami seperti pasangan yang sedang pergi kencan. Dengan ucapan-ucapan manis Nita yang membuat malam itu menjadi berbeda dari hari-hari sebelum-nya bersama-nya di kantor. Terus terang malam itu adalah pertama kali-nya kami keluar jalan-jalan berdua.
"Nita, kamu kagak dimarahin ama cowok-mu. Malam-malam begini keluar ama aku?", tanyaku penasaran. Selama ini aku belum pernah bertanya apabila Nita sudah mempunyai pacar atau tidak.
"Dah putus taon lalu!", jawabnya singkat.
"Oh, sorry. I didn't mean ... (aku ngga bermaksud).", jawabku menyesal.
"It's ok ... he was a jerk anyway. (Ngga apa-apa ... lagian dia orang yang ngga benar).", jawab Nita ketus.
"Oh, I see (aku mengerti).", jawabku singkat.
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan kami ke hal-hal yang lain. Mulai dari keluarganya, sampai gossip seputar selebriti. Aku bisa merasa bahwa Nita masih memendam pengalaman pahit dengan bekas pacar-nya. Aku sebenar-nya ingin tau lebih banyak, tapi malam itu niat-ku aku tunda dulu. Karena waktuku bersama-nya masih banyak.
Kami banyak ngobrol, dan bercanda di dalam mobil, sampai tak terasa kami sudah tiba di tempat tujuan. Setelah memarkir mobilku, kami langsung menuju restoran sushi tersebut.
"Berapa orang pak?", tanya sang pelayan restoran dengan ramah.
"Dua orang saja.", jawabku singkat.
Sang pelayan restoran tersebut memberikan kami meja yang paling ujung, dengan suasana lampu yang remang-remang dengan dua lilin di atas meja kami. Suasana menjadi sangat romantis, dan lebih private buat kami. Nita sangat menyukai suasana restoran sushi yang aku pilih.
"Bagus dan romantis tempat-nya. Good choice (pilihan tepat).", kata Nita.
"Aku suka banget sih. Bersih dan sushi-nya enak lagi. Silahkan pilih aja, aku traktir malam ini sebagai ucapa terima kasih ditemanin lembur malam ini.", jawabku.
"Cuman karena ditemani lembur nih ceritanyaaa ... yang lain-nya ngga dihitung yah?", tanya Nita genit.
"Iya iya ... yang 'itu' juga.", jawabku sambil tertawa.
"Yang tadi enak ngga?", tanya Nita penasaran.
"Hmm ... gimana yah ...", jawabku jual mahal.
"Iiihhh ... gemesin ...", omel Nita sambil mencubit tangan kananku.
"Iya iya, enak banget ... ngga bohong deh. Kalo ngga enak, kagak keluar itu 'kayak susu' katanya.", candaku.
"Trus katanya kapan giliran Nita?", tanya Nita.
"It's a surpised. (Kejutan deh).", jawabku.
Sambil menyantap makan malam kami, kami terus mengobrol, bergossip, bercanda, sampai berhumor ke hal-hal yang nyrempet-nyrempet (dalam konotasi porno).
Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 11 lewat, hampir tengah malam. Sudah waktu-nya kita harus pulang, karena restoran akan segera tutup. Bila bukan karena diberi tau bahwa restoran akan segera tutup, kami berdua mungkin masih asyik saja ngobrol.
Setelah aku membayar bon pesanan kami, kami pun segera langsung menuju ke tempat parkir. Malam itu aku masih ada tugas untuk mengantar Nita pulang ke rumah.
Kemacetan di jalanan ibukota sudah mulai sedikit mereda, jadi kam ... [mohon login dengan username anda untuk melanjutkan cerita/article ini].
|