|
|
|
|
|
|
|
|
- |
Selingkuh |
Nyata |
2009-03-25 00:26:40 |
|
5 |
5901 |
Perkenalkan nama saya Heru (bukan nama yang sebenarnya) usia saya sekarang 30 tahun (di tahun 2009) dan telah berkeluarga. Istri saya lebih tua dari saya 1 tahun dan sampai detik ini kami belum dikaruniai seorang anak. Tubuh saya bisa dinilai biasa saja menurut saya. Tinggi badan 175cm ukuran badan biasa tidaklah Macho seperti atlit. Pokoknya semua biasa saja.
Saya akan menceritakan pengalaman seks saya, namun ini tidak ada sangkut pautnya dengan istri saya. Dalam urusan seks istri saya terkadang biasa saja, terkadang luar biasa. Tapi banyak biasanya aja.
Perselingkuhan! Itulah kata yg tepat saya tulis karena kejadian yg saya alami terjadi saat saya sudah menikah dan berjalan 1 tahun. Kejadian ini terjadi kira2 tahun 2005 sampai 2006. Ini adalah kisah nyata dan tanpa ada rekayasa ini semua saya alami. Dan kenapa saya menulis artikel ini jawabanya ada dalam cerita ini.
Saat itu saya bekerja disalah satu perusahaan besar di salah satu kawasan di Banten. Tapi sekarang ini saya sudah keluar, karena ada pekerjaan yg lebih baik.
Saat saya bekerja di perusahaan tersebut, saya bekerja di salah satu tempat yang rata-rata pekerja-nya dibanjiri oleh kaum Hawa. Dan tentu-nya hal ini yang mudah membuat nafsu cepat bangkit. Baik yang masih gadis maupun yang sudah bekeluarga, namun tidak ada yang mau saya kencani.
Cerita ini berawal dari adanya karyawan baru diperusahaan ini. Seorang wanita bertubuh mungil. Tingginya hanya sekitar 160cm, itu pun harus pake sepatu yang haknya tinggi. Mbak Wati namanya saat pertama kali kenalan dan sudah bersuami dan mempunyai seorang anak. Tiap hari diantar oleh suaminnya pake mobil atau terkadang pakai taksi. Jauh dibandingkan dengan saya, yang paling banter hanya roda dua yang menemaniku setiap hari.
Awal dia bekerja selama 2 bulan berjalan seperti biasanya. Hanya yang menggangu pemandangan saat aku bekerja adalah buah dadanya yang berukuran besar dibandingkan dengan karyawan-karyawan yang lain. Sering saya berhayal meremas buah dadanya menjilatinnya dan meremasnya. Namun itu cuma khayalanku saja.
Tapi setiap saya memperhatikan buah dadanya yang terkadang dia dengan sengajanya menarik bahunya sehingga buah dadanya nampak menonjol seakan mau keluar. Kegiatan seperti itu terus berulang saat tidak ada orang dan hanya diperlihatkan kepadaku seorang. Namun saat itu saya menjaga dan menahan diri. Karena saya sudah punya istri.
Seperti hari-hari biasanya saya bekerja lembur. Saat lembur seperti biasanya saya iseng browsing internet yang tentunya web IndoDiva ini saya buka untuk menambah pengalaman. Pada saat lembur saya liat Wati ternyata juga ikut lembur hari itu.
"Tumben ... Wat lembur ...", tanya saya.
"Iya ni ... banyak kerjaan kalau ngga kelar ni hari besok si boss marah deh... ", jawabnya dengan manja.
Pada saat saya asyik browsing dan kebetulan lagi baca cerita-cerita seks di komputer tiba-tiba Wati sudah ada di belakang saya.
"Ikut dong bacanya, keliatanya seru loh." kata mbak wati sambil duduk di sebelah kiri saya.
Aku kaget sekali karena terlalu serius membaca sambil melihat foto-foto yg syur di Internet.
"Ah ... mbak bikin kaget aja ... boleh aja kalo mau ikutan lihat.", jawab saya.
Saat itu jantungku berdetak kencang sekali, karena baru pertama ini saya berada dekat dengan mbak Wati. Harum sekali aroma tubuhnya, padahal waktu menunjukan pukul 18.45 WIB. Meskipun sudah hampir 12 jam bekerja, aroma tubuhnya masih tetap tercium harum. Semua karyawan yang lain sudah pulang, hanya tinggal kami berdua dan seorang satpam yang berada diruangan lain di sebelah gedung kantor kita.
"Wah, nanti mbak bisa-bisa jadi kepengen nih ..." tanya saya dengan nada menggoda.
Mbak wati hanya tersenyum saja. Saya bisa melihat bahwa gerak-gerik tubuhnya mulai gelisah dan sering nelan ludah sendiri. Sesekali posisi duduknya berubah. Saya pun tidak bisa konsentrasi membaca artikel-artikel seks yang ada di komputer. Ditambah lagi dengan gerakan-gerakan gelisah Wati yang akhirnya membuat rok ketat yg dipakai saat itu mulai tersingkap perlahan-lahan.
"Oh ...", desah saya di dalam hati.
Tiba-tiba Wati berkata memecahkan keheningan suasana ruangan, "Wah mbak bisa-bisa kepengen nih."
"Kalau yang pengen dua-duanya gimana mbak? ", tanya saya polos.
"Cepat pulang, dan minta ama suami dong." jawabnya kala itu.
"Yahhh.", batin saya lagi.
"Eh, tapi saya lupa.", dia berkata lagi.
"Saya lupa suamiku lagi ngga ada di rumah nih.", sambung-nya cepat.
"Ngomong-ngomong mbak kalau ama suami seminggu berapa kali?", tanya saya iseng.
"Ya ... paling dikit 3 kali seminggu, pernah sih sehari kadang 3 kali, kalau kamu?", Wati balik tanya kepada saya.
"Kalau saya ... ", saya pura-pura berpikir.
"Seminggu 1 kali kayaknya deh.", kata s ... [mohon login dengan username anda untuk melanjutkan cerita/article ini].
|