|
|
|
|
|
|
|
|
mia.forever |
Selingkuh |
Nyata |
2009-01-08 20:53:54 |
|
25 |
13073 |
Cerita ini ingin sekali aku tuliskan untuk berbagi pengalaman khususnya para istri-istri yang sangat mencintai keluarga mereka sehingga berani melakukan apa saja untuk memberikan yang terbaik untuk keluarganya.
Aku tidak menganjurkan kepada kami para istri untuk melakukan hal yang telah aku lakukan demi suami tercinta mencapai kesuksesan dalam berbisnis. Ada pepatah terkenal yang mengatakan bahwa "Di balik kesuksesan seorang lelaki, di sana ada seorang wanita hebat".
Sebut saja namaku Mia. Aku adalah seorang ibu rumah tangga yang telah memiliki dua orang putra. Sejak kejadian ini terjadi, umurku baru sekitar 37 tahun dan kedua putraku berumur 16 dan 14 tahun. Umur suamiku beda jeda 8 tahun lebih tua dariku.
Sejak perkawinan kami 17 tahun yang lalu, hidup kami sangat sederhana dan tinggal di rumah kontrakan di Jakarta, dan boleh dikatakan selalu ada kekurangan dalam hal ekonomi. Kedua orang tua kandungku sering prihatin dengan keadaan ekonomi keluargaku, sehingga mereka sering mengirimkan bantuan berupa bahan-bahan dasar makanan, dan juga kadang-kadang kebutuhan sandang yang lain. Mereka jarang sekali memberikan bantuan berupa uang, karena suamiku memiliki rasa gengsi yang lumayan tinggi, meskipun ekonomi kami cukup pas-pasan. Kalo pun mereka memberi bantuan berupa uang, itu pun langsung diberikan langsung kepadaku tanpa sepengetahuan suami.
Perlu para pembaca mengerti sebelumnya bahwa suamiku bukan seorang pemalas. Dia adalah seorang yang sangat tekun bekerja, gigih, jujur, dan berani mengambil resiko dalam berbisnis. Namun selama 17 tahun hidup bersama dengannya, setiap bisnis suamiku selalu mengalami kegagalan oleh karena karakter jujur dia yang dilecehkan dan diperalat oleh kerabat-kerabat bisnisnya.
Tapi dia bukan seorang yang mudah putus asa, dan selalu bangkit berdiri. Sebagai istri pun, aku harus selalu melayani dan memberikan dorongan moral di belakang untuk setiap langkah dan keputusan yang dia ambil. Dari pagi sampai sore diteriknya panas matahari, dia gigih menjadi seorang sales untuk mendapatkan uang yang hanya cukup untuk menghidupi keluarga kami untuk makan sehari-hari. Yang mengenaskan terkadang dia tidak dapat menjual barang satu pun dalam sehari, sehingga keuangan kami sungguh mepet. Pernah suatu hari, kami hanya mampu membeli satu nasi bungkus untuk dimakan berempat.
Ekonomi keluarga kami belum juga membaik dan belum terlihat membaik pula. Apalagi ditambah oleh dampak krisis ekonomi national tahun 1998 yang membuat bukan saja ekonomi keluarga runyam, namun ekonomi negara pun juga runyam. Jika bukan bantuan dari saudara-saudara dan orang tuaku, kami sekeluarga tidak akan mampu bertahan hidup.
Jelas saja dengan kehidupan yang serba pas-pasan ini, postur tubuhku selalu tampak ramping. Namun aku bersyukur telah dikaruniai payudara yang indah, warna kulit kuning langsat yang cerah, dan paras wajah yang lumayan dan bersih. Namun karena tidak mampu membeli pakaian dan peralatan kecantikan yang mahal, penampilanku pun juga turut sederhana.
Begitulah singkat cerita kehidupanku dan keluargaku sampai pada awal tahun 2000.
--------------------------------------------------
Aku kurang ingat kapan tepatnya di awal tahun 2000, di saat dia pulang kerja, dia bercerita kepadaku bahwa ia berkenalan dengan seseorang pengusaha kaya bernama Xiang (nama samaran) dari negeri tirai bambu alias China secara tidak sengaja di sebuah hotel saat dia menunggu kliennya untuk menawarkan produk yang dia jual saat itu.
Untung suamiku bisa berbicara sedikit bahasa Mandarin dan cukup menguasai bahasa Inggris. Xiang menceritakan kepadanya bahwa dia datang ke Indonesia ini untuk melihat peluang bisnis di Indonesia. Dia menceritkan kepadaku ketika Xiang mendemonstrasikan kepadanya barang yang ingin dia jual di Indonesia. Barang tersebut langsung menarik perhatian suamiku dan dia pun yakin bahwa barang tersebut mudah laku di Indonesia. Pertama, memang belum ada yang seperti itu di Indonesia dan kedua, harga-nya yang sangat murah.
Yang Xiang butuhkan itu hanya ingin mencari orang yang dia bisa percaya di Indonesia untuk menjual barang tersebut. Saat itu Xiang membawa 100 samples dari China, dan menawarkan kepada suamiku untuk dicoba ditawarkan kepada klien-klien suamiku. Suamiku saat itu penuh rasa percaya diri bahwa dia sanggup menjual barang tersebut. Xiang memberi 10 samples kepadanya. Sebagai jaminan dari 10 barang tersebut, Xiang meminta KTP suamiku sebagai jaminannya. Dan bertemu lagi dengannya 3 hari kemudian di hotel dan jam yang sama.
Keesokan harinya, suamiku dengan semangat luar biasa mulai menawarkan barang Xiang kepada klien-kliennya. Dan tentu saja suamiku mematok harga sedikit lebih dari harga yang Xiang minta.
Ternyata hari itu adalah hari paling bahagia yang pernah kami rasakan. Sebelum tibanya makan siang, suamiku telah pulang rumah t ... [mohon login dengan username anda untuk melanjutkan cerita/article ini].
|