Kumpulan Cerita Cerita Seru
Cerita Seru Kirim Cerita IndoDiva Home IndoDiva Gallery IndoDiva Forum
Finding SEO - Bringing Traffics Closer To You
Articles
Daun Muda
Gay/Lesbian
Group Sex
Lain Lain
Oral Sex
Selingkuh
Setengah Baya
Sex Umum
Tukar Pasangan
Selingkuh :: Membalas Selingkuh Suamiku
Pengirim
Category
Type
Date Added
Rating
Voters
Readers
-
Selingkuh
Nyata
2008-08-20 23:19:46
42
13797

Sungguh aku amat bahagia sekali ketika Mas Dodo mengajakku pindah rumah yang baru dibelinya secara cicilan, namun amat bagus dan sesuai dengan seleraku. Apalagi dari pernikahanku yang memasuki tahun ke lima ini kami telah di beri seorang momongan anak perempuan yang cantik dan lucu sekali. Usianya baru menginjak tiga tahun. Sebelum ini kami menempati rumah kontrakan yang kami sewa secara tahunan. Namun merasa semakin besarnya dan untuk perkembangan pertumbuhan anak kami makanya Mas Dodo mengambil inisiatif untuk mengambilnya juga, meski dengan harga yang cukup mahal menurut aku.

Padahal dulunya orangtuaku mengajakku untuk tinggal serumah dengan mereka. Namun karena inisiatif Mas Dodo yang ingin membentuk kelurga yang mandiri maka sebagai istri aku harus menurut kata suamiku. Kini kami sudah menempati rumah hasil jerih payah kami selama ini, yang meskipun cicilan namun bentuk dan luas bangunan rumah ini amat cukup untuk kami membesarkan anak-anak kelak. Selain memiliki halaman yang cukup dan garasi yang bisa menampung dua buah mobil kami. Dibelakang rumah juga ada pekarangan yang bisa kami gunakan untuk bersantai dan bermain sikecil.

Mas Dodo amat tepat memilih lokasi yang masih cukup jauh dari hiruk pikuk kota juga telah memiliki berbagai fasilitas dan akses yang mudah ketempat kami bekerja. Sengaja hingga saat ini aku tidak mengambil pembantu atau baby sitter, karena aku ingin membesarkan anakku dengan kasih sayangku sendiri dan memberikan perhatian untuk pertumbuhan buah hati kami. Jika aku berangkat kerja, maka anakku aku titipkan kerumah ibu yang letaknya tidak jauh dari kantorku. Jadi jika istirahat kantor aku bisa melihat anakku. Ibukupun tidak keberatan jika anakku aku tinggal. Beliau amat suka dan sebagai hiburan baginya, karena adikku yang bungsu sering tidak dirumah dan sibuk kuliah.

Kini setiap sore, aku selalu menjemput anakku di rumah ibu. Setiba dirumah aku pun beres-beres pekerjaan rumah juga masak seperlunya untuk sarapan kami sekeluarga. Syukurlah suamiku orangnya tidak neko-neko. Ia amat menikmati saja apa yang aku suguhkan di meja makan. Padahal aku tahu ia amat lapar jika pulang kantor malam hari. Aku selalu membuatkan masakan kesukaannya jika hari sabtu dimana kami bisa berkumpul lengkap karena libur kantor. Biasanya kami mengisinya dengan masak-masak, atau terkadang makan diluar atau berkunjung kerumah ibu. Dan biasanya ibu sudah menyiapakan makanan kesukaan kami.

Selama ini aku rasakan hidupku amat bahagia memiliki seorang suami yang pengertian dan baik. Dengan rutinitas yang semakin padat juga karena kenaikan jabatan suamiku, maka akhirnya akupun minta mengundurkan diri dari pekerjaan karena buah hatiku amat membutuhkan perhatianku. Namun pimpinan tempat kerjaku malah meminta aku agar tetap bergabung dengan mereka dan aku di beri kelonggaran dengan kerja paruh waktu, aku diberi kebebasan bisa masuk kantor atau terkadang mereka memberikan aku perintah kerja dengan fasilitas online yang terhubung ke rumah aku. Mereka merasa amat membutuhkan tenagaku.

Jadi kini aku seakan lega karena selain bisa terus eksis di pekerjaan aku juga bisa mengawasi perkembangan anakku. Namun kini kebahagiaan aku agak sedikit terganggu dengan adanya gangguan gangguan kecil di rumahku. Jika disaat aku akan keluar rumah dengan mobilku selalu melewati pos penjagaan yang di jaga seorang Satpam perumahan. Aku amat merasa tidak nyaman akan pandangannya yang aku rasa amat kurang ajar itu. Terkadang aku sempat memergoki pandangan matanya kea rah belahan blus kerjaku. Aku merasa risi di pandangi seperti itu. Aku juga merasa di telanjangi jika berpapasan dengannya. Sudah sering memang kejadian ini aku alami di pos rumahku ini. Pernah aku ingin bilang pada suamiku, namun aku masih menahannya agar dia tak merasa terganggu. Namun tiap kali aku lewat dan bertemu pandang dengannya dia selalu menatapku seperti menatap secara cabul. Akhirnya aku tak tahan, suatu malam aku bicarakan dengan suamiku.

"Pa ... papa kenal dengan satpam yang item dan gendut itu pa?" tanyaku.

"Yang mana?" suamiku bertanya balik dan mengingat ingat.

"itu tuh yang brewokan itu" kataku menerangkan

"Ooohhh ... abang Saroji, ya itu namanya Abang Saroji" lalu suamiku bertanya "Memangnya mama ada urusan apa dengan dia?" Lalu aku jawab, "dia koq jika melihat aku tuh seperti mau menelanku mentah mentah lo Pah?"

Sambil tertawa suamiku bilang, "ah ... dia orangnya baik koq ... papa aja sering di tawari kopi, jika papa pulang malam. Mungkin dia gak tau kali,jika mama adalah istri papa" terang suamiku.

"Tapi dia amat kurang ajar lo pah ... dari pandangannya itu." terangku lagi.

Yah ... mungkin dia jarang lihat orang cantik seperti mama, jadi dia tuh, masih agak kaget, jawab suamiku sambil membelai rambutku ... Ah ... papa..jawabku ... .agak manyun..

Aku takut pah ... jawabku lagi ... ya, mungkin a ... [mohon login dengan username anda untuk melanjutkan cerita/article ini].



Cerita Seru Kirim Cerita IndoDiva Home IndoDiva Gallery IndoDiva Forum