Kumpulan Cerita Cerita Seru
Cerita Seru Kirim Cerita IndoDiva Home IndoDiva Gallery IndoDiva Forum
Finding SEO - Bringing Traffics Closer To You
Articles
Daun Muda
Gay/Lesbian
Group Sex
Lain Lain
Oral Sex
Selingkuh
Setengah Baya
Sex Umum
Tukar Pasangan
Sex Umum :: Dilayani Oleh Wanita Hamil
Pengirim
Category
Type
Date Added
Rating
Voters
Readers
ragno
Sex Umum
Fiktif
2008-05-01 01:28:08
25
22701

Sabtu awal bulan, di pagi menjelang siang hari tepatnya jam 1030 yang cerah aku sudah duduk di rumah makan cepat saji yang cukup populer di Jakarta. Setelah memesan makanan, aku pilih tempat duduk dekat kaca, agar dapat melihat situasi di luar. Dari pantulan cermin aku melihat di belakangku ada pria dan wanita. Yang pria sedang membaca surat kabar dengan posisi mengahadap kaca di sampingnya sedangkan wanitanya melahap makanan yang tersaji di hadapannya (jangan dicontoh, makanlah saling berhadapan, jangan sambil baca koran bila saling berhadapan di meja makan) - sehingga tidak ada suara - hanya suara musik yang terdengar sayup-sayup.

Karena aku nggak biasa sarapan pagi, jadi sarapannya tidak bisa cepat, sedikit-sedikit yang penting masuk. Nampak dibelakangku mulai ada pembicaraan, semakin lama semakin keras. Oh, ternyata lagi ada pertengkaran, namun suaranya tidak terlalu keras. Bagus juga idenya kalau bertengkar cari tempat di luar rumah. Si wanita cemburu terhadap pasangannya, namum disanggah oleh si pria. Dia tak mungkin berseligkuh dikarenakan semua penghasilannya sudah diberikan padanya.

Tiba-tiba aku lihat di luar ada seorang wanita berjalan dengan cepat sambil membawa tas plastik merah. Sepertinya kenal. Aku ingat-ingat. Oh iya, itukan mbak Indah. Aku lihat jam menunjukkan jam 1130, berarti mulai berdatangan WP di depan rumah makan ini, tetapi ini masih yang junior-nya alias yang baru lulus training. Aku sudah tidak memfokuskan ke pembicaraan orang di belakangku. Tak lama sepeda motor berpenumpang melintas dan menurunkan penumpangnya tepat di belakang kendaraanku yang kuparkir di seberang rumah makan dan hanya tiga blok dari sebuah panti pijat tradisional (papitra). Dia turun dan memberikan uang. Oh ternyata naik ojek, itu kan mbak Anita. Saat mbak Anna masuk, sebuah bajaj berhenti lagi di belakang kendaraanku. Setelah bajaj berlalu tampak mbak Ayu, dengan cepat melangkah masuk. Lama kelamaan parkir mulai penuh di sekitar papitra, dan banyak pengemudi masuk ke situ. Nampak roda kehidupan papitra mulai berputar.

Tanpa terasa suasana rumah makan mulai ramai. Pengunjung sudah bergantian keluar-masuk. Makanankupun sudah mulai habis. Aku pesan makanan penutup, sambil tidak sedikitpun membuang pandanganku ke arah sekitar mobilku. Bukannya takut kehilangan mobilku, tetapi di situlah rata-rata para wp turun dari kendaraan yang mengangkut mereka - mungkin malu dengan "pengantar"nya bahwa mereka bekerja di papitra, sedangkan yang naik bis pasti berjalan kaki untuk mencapai tempat bekerjanya.

Hari semakin siang, sudah meunjukkan jam 1300. Wp masih berdatangan. Ada yang muda dan kecil rata-rata mereka menggunakan pakaian serba ketat atau hanya bawahannya saja yang ketat - nanti setelah masuk mereka akan menggunakan pakaian dinasnya yang setiap hari berganti warna tetapi dengan model yang sama, mempunyai bordiran nama di dada kanan sedangkan rok-mininya ditulis nama wp dengan spidol di bagian dalam lipatan pinggang. Nah jam segini yang datang biasanya para senior-senior. Ada yang keluar dari taksi sambil bicara dengan hp-nya. Begitu taksi yang menutupi pandanganku jalan, baru aku tahu kalau itu mbak Febby. Ada yang jalan kaki tetapi sambil bicara juga dengan hp-nya, kalau nggak salah ini mbak Anna, dari penampilan mereka rata-rata hp yang digunakan keluaran terbaru.

Tidak berapa lama ada seorang wanita berpakaian ungu muda keluar dari taksi. Begitu taksi pergi, dia jalan menuju ke papitra. Siapa yah? orang barukah? kataku dalam hati sambil menyentuh daerah antara hidung dan bibir atas dengan telunjuk kiriku - rasa penasaran dan petualanganku mulai tumbuh - dari penglihatanku umurnya kurang lebih sekitar 30 an. Yang menarik adalah pinggulnya cukup besar. Bila berjalan seperti bebek, megal megol, seperti orang hamil (???), apa mungkin orang hamil bekerja di papitra?.

Didorong rasa ingin tahu, aku menelpon ke papitra di depan rumah makan itu.

"xxxxxx xxxxx selamat siang," suara resepsionis.
"Siang mbak Ani," jawabku.
"Mau pesan Pak Budi?" katanya, masih ingat namaku. Mana mungkin lupa, khan setiap datang selalu diberi uang tip. (hati-hati ada pengganti mbak Ani, yang setiap mengembalikan uang jasa pijat selalu mengatakan kembaliannya kurang karena nggak ada uang kecil. Dia hanya menyediakan uang terkecil 10.000,-, jadi di bawah nilai ini tidak akan di kembalikan - 'pemerasan terselubung' alias tip maksa. Aku kalau bertemu dengan orang ini, selalu aku membayar lewat wp, agar kembaliannya tidak jatuh ke tangannya. Lebih baik jatuh ke tangan wp - khan dia yang 'memeras').

"Mbak Ani, yang barusan baru masuk menggunakan baju ungu siapa sih?" tanyaku.
"Oh itu mbak Desi," jawabnya.
"Sepertinya koq lagi hamil, mbak?" tanyaku sambil menebak.
"Emang bener, pak," jawabnya.
"Mbak Ani, sorry aku nanya-nya agak-agak nih, kalau lagi hamil tugas, berarti hanya mijat dong?" tanyaku mendesak.
[mohon login dengan username anda untuk melanjutkan cerita/article ini].



Cerita Seru Kirim Cerita IndoDiva Home IndoDiva Gallery IndoDiva Forum